Mengenal Budaya Papua Dalam Festival Suku Asmat

Tuesday, August 29th, 2017 - Berita


Bagi anda yang mempunyai jiwa petualang, menjelajahi semua tempat-tempat di Indonesia tentunya tidak akan lengkap jika belum mengunjungi setiap festival budaya lokal setempat. Salah satu festival budaya yang paling menarik perhatian dunia adalah festival Asmat. Seperti yang kita tahu, wilayah Papua sangat kaya akan keindahan alam juga budayanya, dan salah satu festival budaya yang telah lama digelar adalah Festival Budaya Asmat. Festival kebudayaan asli Indonesia ini telah diadakan sejak tahun 1981 silam, atas prakarsa dari Uskup Alfonsus Suwada OSC yang merupakan uskup pertama di Keuskupan Agats-Asmat (Keuskupan Gereja Katolik). Meskipun sempat terhenti beberapa kali, namun festival ini kemudian secara rutin digelar kembali setiap tahun, tujuan utama dari festival ini adalah untuk melestarikan nilai-nilai budaya Asmat, terutama sebagai pengenalan kebudayaan kepada para generasi muda. Wilayah Asmat sendiri terkenal dengan keunikan seni dan budaya mengukir tanpa desain pola, hal itu pula yang membuat suku Asmat terkenal di kalangan wisatawan domestik juga manca negara. Pada festival budaya Asmat sendiri terdapat banyak kegiatan, mulai dari pameran karya ukiran, pembuatan ukiran, pelelangan, pertunjukan budaya berupa tari-tarian dan lain-lain.

Dan kini, ukiran dan kerajinan para suku Asmat sudah terkenal hingga ke mancanegara, keunikan serta nilai seni yang tinggi, nyatanya mampu menarik minat para wisatawan. Para suku Asmat membuat ukiran berupa perisai, perahu, dayung bahkan koteka, setiap ukiran yang dibuat pada panel kayu dan akar pohon tersebut menciptakan motif-motif berupa kisah legenda suku Asmat yaitu legenda Fumiripits.  Dan di setiap ukiran, bersemayam citra juga penghargaan atas nenek moyang mereka yang sarat dengan kebesaran Suku Asmat.

Yang menjadikannya unik, setiap patung dan ukiran yang dibuat, umumnya dibuat tanpa sketsa terlebih dahulu. Karena bagi para suku Asmat, saat proses mengukir patung adalah saat di mana mereka berkomunikasi dengan leluhur yang ada di alam lain, hal ini sesuai dengan pemahaman mereka mengenai tiga konsep dunia: Amat ow capinmi (alam kehidupan sekarang), Dampu ow campinmi (alam pesinggahan roh yang sudah meninggal), dan Safar (surga). Suku Asmat memiliki keyakinan bahwa sebelum memasuki surga, arwah orang yang sudah meninggal akan mengganggu manusia,  gangguan tersebut bisa berupa penyakit, bencana, bahkan peperangan. Maka dari itu, demi menyelamatkan manusia serta menebus arwah, mereka yang masih hidup harus membuat patung dan menggelar pesta seperti pesta patung bis (Bioskokombi), pesta topeng, pesta perahu, dan pesta ulat-ulat sagu.

Berbicara mengenai patung, konon patung bis adalah bentuk patung yang paling sakral. Dan seiring perkembangannya, membuat patung bagi Suku Asmat kini tidak hanya sekadar memenuhi panggilan tradisi, mereka memahami bahwa hasil ukiran tangan mereka memiliki daya jual yang cukup tinggi. Harga untuk setiap hasil ukiran tangan dihargai antara Rp 100 ribu hingga jutaan rupiah. Kita patut bangga, karena ternyata, karya ukir kayu khas Suku Asmat yang salah satu kekayaan budaya nasional bisa menembus pasar internasional bahkan dunia. Setiap  karakteristik dari ukiran tangan mempunyai pola yang unik dan bersifat naturalis, dari segi model, ukiran karya suku Asmat mempunyai beberapa model yang cukup beragam, mulai dari patung manusia, perahu, panel, perisai, tifa, telur kaswari, sampai ukiran tiang. Para Suku Asmat mengadopsi pola ukiran-ukiran tersebut berdasarkan pengalaman dan lingkungan di sekitar mereka, seperti pohon, perahu, binatang, orang berperahu, dan lain-lain.

Yang semakin membuatnya istimewa dan unik adalah, setiap karya ukir tidak memiliki kesamaan atau duplikat satu sama lain, dimana para suku Asmat juga tidak memproduksi ukiran berpola sama dalam skala besar. Jadi kalau kita memiliki satu ukiran dari Asmat dengan pola tertentu, itu adalah satu-satunya model dan hanya kita yang punya. Bentuk boleh sama, misalnya perisai atau panel, tetapi soal pola, pasti akan berbeda. Dan untuk para wisatawan yang ingin melihat festival budaya ini, terdapat beberapa homestay dan rumah tradisional untuk menginap. Keindahan alam Papua bisa semakin dinikmati saat kita mencoba untuk beradaptasi dengan mengikuti kehidupan adat masyarakat setempat.

Mengenal kebudayaan para Suku Asmat merupakan salah satu cara bagi kita untuk lebih mengenal kekayaan budaya bangsa. Suku Asmat juga merupakan salah satu ikon budaya Indonesia yang mempunyai nilai tersendiri dan bisa dikembangkan menjadi surga pariwisata di kawasan timur Indonesia. Bagi siapapun yang datang ke wilayah Suku Asmat, bersiaplah dengan suguhan pemandangan fenomena alam yang masih perawan. Dan tentunya akan menjadi suatu petualangan yang sulit untuk dilupakan.

Ayo, bangkitkan jiwa petualangan anda untuk menjelajah setiap keindahan dan mengenal lebih dalam kebudayaan tanah Papua. Berwisata budaya kini menjadi lebih lebih mudah dan menyenangkan, karena saat ini, pesawat tiket online menuju Papua sudah banyak tersedia. Anda bisa pesan tiket pesawat Sriwijaya Air yang menyediakan rute penerbangan langsung menuju Jayapura melalui Reservasi.com.